NEWS SIBU – Krisis kemanusiaan yang menimpa etnis Rohingya terus menjadi perhatian dunia. Delapan tahun sejak gelombang kekerasan besar-besaran pada 2017, ratusan ribu pengungsi Rohingya masih hidup dalam kondisi memprihatinkan di kamp-kamp penampungan, khususnya di Cox’s Bazar, Bangladesh, serta di sejumlah negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Delapan Tahun dalam Keterasingan
Baca Juga : Menlu Bangladesh: ASEAN Harus Lebih Proaktif Tangani Rohingya
Sejak terusir dari tanah kelahiran mereka di Rakhine, Myanmar, mayoritas Rohingya hingga kini masih berstatus tanpa kewarganegaraan. Mereka tidak diakui sebagai warga negara Myanmar, sementara negara tujuan pengungsian pun belum sepenuhnya mampu memberikan kepastian hukum maupun akses hidup layak.
Data terbaru dari UNHCR mencatat, lebih dari 900 ribu pengungsi Rohingya masih berada di Bangladesh, dengan sebagian lainnya tersebar ke Malaysia, India, dan Indonesia.
Kehidupan di Kamp Pengungsian
Kondisi di kamp-kamp pengungsian tetap jauh dari kata ideal. Masalah kesehatan, sanitasi, dan pendidikan masih menjadi tantangan utama. Banyak anak Rohingya tumbuh tanpa akses sekolah formal, sementara para orang dewasa kesulitan memperoleh pekerjaan layak karena keterbatasan izin.
“Anak-anak yang lahir di kamp ini tidak mengenal tanah leluhur mereka. Mereka tumbuh tanpa identitas jelas,” ungkap seorang relawan kemanusiaan. Nasib Rohingya
Gelombang Kedatangan ke Asia Tenggara
Dalam dua tahun terakhir, termasuk sepanjang 2025, gelombang kedatangan pengungsi Rohingya melalui jalur laut kembali meningkat. Indonesia, terutama wilayah Aceh, menjadi salah satu tujuan transit. Kondisi ini memicu reaksi beragam dari masyarakat lokal: ada yang menolak karena keterbatasan sumber daya, namun ada pula yang tetap menunjukkan solidaritas kemanusiaan.
Tekanan Diplomatik Internasional
Meski isu Rohingya telah menjadi agenda internasional, solusi permanen masih jauh dari harapan. Upaya diplomasi yang dilakukan PBB dan ASEAN belum menghasilkan langkah konkret untuk memastikan repatriasi aman ke Myanmar, apalagi dengan kondisi politik di negara tersebut yang masih bergejolak.
Aktivis hak asasi manusia menilai dunia internasional perlu memperkuat tekanan diplomatik agar Myanmar membuka ruang penyelesaian damai, sekaligus mendesak negara-negara kawasan memberikan perlindungan yang lebih manusiawi.
Harapan dan Jalan Panjang
Di tengah penderitaan panjang, harapan tetap hidup di kalangan Rohingya. Mereka berharap bisa kembali ke tanah kelahiran dengan jaminan keamanan, serta memperoleh hak kewarganegaraan yang diakui.
Sewindu telah berlalu, namun tragedi Rohingya masih menjadi luka kemanusiaan global. Dunia dituntut untuk tidak melupakan, serta terus mencari jalan keluar bagi salah satu krisis pengungsi terbesar abad ini.











