Jelang Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35, suasana internal PBNU kembali ramai. Sebab, muncul isu pemakzulan terhadap Ketua Umum PBNU, Gus Yahya Cholil Staquf. Meski begitu, Sekjen PBNU, Saifullah Yusuf, berharap kegaduhan ini segera berakhir. Ia menilai polemik tersebut hanya mengganggu fokus organisasi menghadapi agenda besar lima tahunan.
Sekjen PBNU Minta Kegaduhan Segera Selesai
Saifullah Yusuf menegaskan bahwa PBNU butuh suasana tenang. Karena itu, ia meminta semua pihak menghentikan perdebatan. Menurutnya, isu pemakzulan hanya membuat energi organisasi terpecah. Selain itu, ia mengingatkan bahwa rumor tersebut tidak berdasar dan tidak mengikuti mekanisme resmi.
Ia menekankan bahwa PBNU tetap solid. Oleh sebab itu, ia mengajak seluruh warga NU menjaga ketenangan sampai muktamar berlangsung.
Isu Pemakzulan Dinilai Tidak Sesuai Aturan
Dalam penjelasannya, Saifullah mengatakan bahwa pemakzulan ketua umum tidak bisa dilakukan sembarangan. Sebab, keputusan itu harus melalui prosedur yang ketat. Selain itu, langkah tersebut memerlukan forum resmi. Karena itu, ia menilai rumor yang beredar hanya menimbulkan kesalahpahaman.
Ia menambahkan bahwa AD/ART NU sudah mengatur seluruh proses secara jelas. Dengan demikian, setiap langkah harus mengikuti aturan tersebut.
Muktamar ke-35 Butuh Fokus dan Kondusivitas
Selain menjelaskan aturan, Saifullah juga menyoroti pentingnya fokus. Ia menyebut muktamar sebagai forum strategis. Karena itu, PBNU tidak boleh terganggu isu yang belum jelas. Ia berharap semua pihak menjaga kondusivitas.
Menurutnya, muktamar akan menentukan arah NU lima tahun ke depan.
Persiapan Panitia Berjalan Intensif
Sementara itu, persiapan muktamar terus berjalan. Panitia mulai merapikan lokasi, agenda, dan teknis acara. Selain itu, koordinasi dengan berbagai pihak terus dilakukan. Saifullah memastikan proses berjalan lancar.
Ia berharap muktamar nanti berlangsung damai dan produktif.
Seruan Menjaga Ukhuwah
Karena suasana makin hangat, Saifullah mengajak semua pihak menjaga ukhuwah. Ia menilai perbedaan pendapat wajar. Namun, ia menegaskan bahwa persatuan harus tetap diutamakan. Selain itu, ia meminta warga NU tidak mudah terpengaruh isu yang tidak jelas.
Menurutnya, menjaga keharmonisan lebih penting daripada memperbesar polemik.
Warga NU Diminta Lebih Selektif Terhadap Informasi
Ia juga mengingatkan warga NU agar lebih selektif terhadap informasi. Karena itu, ia meminta mereka memeriksa sumber sebelum menyebarkan berita. Ia menjelaskan bahwa rumor yang tidak jelas hanya merugikan organisasi.
Selain itu, ia mengatakan bahwa ketenangan akan menjaga martabat PBNU sebagai organisasi besar.
PBNU Pastikan Tidak Ada Perpecahan
Meski isu pemakzulan menyebar luas, PBNU memastikan tidak ada perpecahan. Menurut Saifullah, hubungan antar-kader tetap baik. Ia menegaskan bahwa dinamika internal adalah hal biasa. Karena itu, ia meminta publik tidak membesar-besarkan isu tersebut.
Ia juga menyebut bahwa komunikasi antara pengurus berjalan normal.
Menjelang Muktamar, Situasi Politik NU Biasanya Memanas
Selain itu, ia menjelaskan bahwa suasana panas menjelang muktamar adalah hal yang sering terjadi. Dalam sejarah NU, dinamika serupa juga pernah muncul. Karena itu, ia menilai kondisi ini masih dalam batas wajar. Namun, ia berharap dinamika tidak berubah menjadi konflik terbuka.
Ia menyebut muktamar selalu menjadi momentum penting bagi perjalanan organisasi.
Harapan Agar Muktamar Berjalan Damai
Di bagian akhir, Saifullah menyampaikan harapannya. Ia ingin muktamar berlangsung damai, rapi, dan sukses. Selain itu, ia berharap muktamar menghasilkan keputusan terbaik untuk NU. Ia juga menilai bahwa ketenangan menjelang muktamar sangat penting.
Ia menutup pesannya dengan ajakan untuk menjaga persatuan, fokus pada gagasan, dan menghindari isu yang belum jelas.
Kesimpulan
Menjelang Muktamar NU ke-35, Sekjen PBNU berharap isu pemakzulan Gus Yahya cepat selesai. Ia menyebut polemik itu tidak berdasar, tidak mengikuti aturan, dan hanya mengganggu persiapan muktamar. Karena itu, ia menyerukan ketenangan, persatuan, dan fokus pada agenda besar organisasi.




